Petunjuk Al-Qur'an dalam Memilih Pemimpin
11/17/2015
Pada zaman sekarang semakin ramai orang berlomba-lomba
mengejar jabatan, berebut kedudukan sehingga menjadikannya sebagai sebuah
obsesi hidup. Menurut mereka yang menganut paham atau prinsip ini, tidak
lengkap rasanya selagi hayat dikandung badan, kalau tidak pernah (meski sekali)
menjadi orang penting, dihormati dan dihargai masyarakat.
Jabatan baik formal maupun informal di negeri kita
Indonesia dipandang sebagai sebuah "aset", karena ia baik langsung
maupun tidak langsung berkonsekwensi kepada keuntungan, kelebihan, kemudahan,
kesenangan, dan setumpuk keistimewaan lainnya. Maka tidaklah heran menjadi
kepala daerah, gubernur, bupati, walikota, anggota dewan, direktur dan
sebagainya merupakan impian dan obsesi semua orang. Mulai dari kalangan
politikus, purnawirawan, birokrat, saudagar, tokoh masyarakat, bahkan sampai
kepada artis.
Mereka berebut mengejar jabatan tanpa mengetahui siapa
sebenarnya dirinya, bagaimana kemampuannya, dan layakkah dirinya memegang
jabatan (kepemimpinan) tersebut. Parahnya lagi, mereka kurang (tidak) memiliki
pemahaman yang benar tentang hakikat kepemimpinan itu sendiri. Karena
menganggap jabatan adalah keistimewaan, fasilitas, kewenangan tanpa batas,
kebanggaan dan popularitas. Padahal jabatan adalah tanggung jawab, pengorbanan,
pelayanan, dan keteladanan yang dilihat dan dinilai banyak orang.
Hakikat kepemimpinan
Al-Quran dan Hadits sebagai pedoman hidup umat Islam
sudah mengatur sejak awal bagaimana seharusnya kita memilih dan menjadi seorang
pemimpin. Menurut Shihab (2002) ada dua hal yang harus dipahami tentang hakikat
kepemimpinan. Pertama, kepemimpinan dalam pandangan Al-Quran bukan sekedar
kontrak sosial antara sang pemimpin dengan masyarakatnya, tetapi merupakan
ikatan perjanjian antara dia dengan Allah swt. Lihat Q. S. Al-Baqarah (2): 124,
"Dan ingatlah ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat
perintah dan larangan (amanat), lalu Ibrahim melaksanakannya dengan baik. Allah
berfirman: Sesungguhnya Aku akan menjadikan engkau pemimpin bagi manusia.
Ibrahim bertanya: Dan dari keturunanku juga (dijadikan pemimpin)? Allah swt
menjawab: Janji (amanat)Ku ini tidak (berhak) diperoleh orang zalim".
Kepemimpinan adalah amanah, titipan Allah swt, bukan
sesuatu yang diminta apalagi dikejar dan diperebutkan. Sebab kepemimpinan
melahirkan kekuasaan dan wewenang yang gunanya semata-mata untuk memudahkan
dalam menjalankan tanggung jawab melayani rakyat. Semakin tinggi kekuasaan
seseorang, hendaknya semakin meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Bukan
sebaliknya, digunakan sebagai peluang untuk memperkaya diri, bertindak zalim
dan sewenang-wenang. Balasan dan upah seorang pemimpin sesungguhnya hanya dari
Allah swt di akhirat kelak, bukan kekayaan dan kemewahan di dunia.
Karena itu pula, ketika sahabat Nabi SAW, Abu Dzarr,
meminta suatu jabatan, Nabi saw bersabda: "Kamu lemah, dan ini adalah
amanah sekaligus dapat menjadi sebab kenistaan dan penyesalan di hari kemudian
(bila disia-siakan)".(H. R. Muslim). Sikap yang sama juga ditunjukkan Nabi
saw ketika seseorang meminta jabatan kepada beliau, dimana orang itu berkata:
"Ya Rasulullah, berilah kepada kami jabatan pada salah satu bagian yang
diberikan Allah kepadamu. "Maka jawab Rasulullah saw: "Demi Allah
Kami tidak mengangkat seseorang pada suatu jabatan kepada orang yang menginginkan
atau ambisi pada jabatan itu".(H. R. Bukhari Muslim).
Kedua, kepemimpinan menuntut keadilan. Keadilan adalah
lawan dari penganiayaan, penindasan dan pilih kasih. Keadilan harus dirasakan
oleh semua pihak dan golongan. Diantara bentuknya adalah dengan mengambil
keputusan yang adil antara dua pihak yang berselisih, mengurus dan melayani
semua lapisan masyarakat tanpa memandang agama, etnis, budaya, dan latar
belakang. Lihat Q. S. Shad (38): 22, "Wahai Daud, Kami telah menjadikan
kamu khalifah di bumi, maka berilah putusan antara manusia dengan hak (adil)
dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu".
Hal senada dikemukakan oleh Hafidhuddin (2003).
Menurutnya ada dua pengertian pemimpin menurut Islam yang harus dipahami.
Pertama, pemimpin berarti umara yang sering disebut juga dengan ulul amri.
Lihat Q. S. An-Nisaâ 4): 5, "Hai orang-orang beriman, taatilah Allah dan
taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri diantara kamu". Dalam ayat tersebut
dikatakan bahwa ulil amri, umara atau penguasa adalah orang yang mendapat
amanah untuk mengurus urusan orang lain. Dengan kata lain, pemimpin itu adalah
orang yang mendapat amanah untuk mengurus urusan rakyat. Jika ada pemimpin yang
tidak mau mengurus kepentingan rakyat, maka ia bukanlah pemimpin (yang
sesungguhnya).
Kedua, pemimpin sering juga disebut khadimul ummah
(pelayan umat). Menurut istilah itu, seorang pemimpin harus menempatkan diri
pada posisi sebagai pelayan masyarakat, bukan minta dilayani. Dengan demikian,
hakikat pemimpin sejati adalah seorang pemimpin yang sanggup dan bersedia
menjalankan amanat Allah swt untuk mengurus dan melayani umat/masyarakat.
Kriteria pemimpin
Para pakar telah lama menelusuri Al-Quran dan Hadits
dan menyimpulkan minimal ada empat kriteria yang harus dimiliki oleh seseorang
sebagai syarat untuk menjadi pemimpin. Semuanya terkumpul di dalam empat sifat
yang dimiliki oleh para nabi/rasul sebagai pemimpin umatnya, yaitu: (1). Shidq,
yaitu kebenaran dan kesungguhan dalam bersikap, berucap dan bertindak di dalam
melaksanakan tugasnya. Lawannya adalah bohong. (2). Amanah, yaitu kepercayaan
yang menjadikan dia memelihara dan menjaga sebaik-baiknya apa yang diamanahkan
kepadanya, baik dari orang-orang yang dipimpinnya, terlebih lagi dari Allah
swt. Lawannya adalah khianat. (3) Fathonah, yaitu kecerdasan, cakap, dan handal
yang melahirkan kemampuan menghadapi dan menanggulangi persoalan yang muncul.
Lawannya adalah bodoh. (4). Tabligh, yaitu penyampaian secara jujur dan
bertanggung jawab atas segala tindakan yang diambilnya (akuntabilitas dan transparansi).
Lawannya adalah menutup-nutupi (kekurangan) dan melindungi (kesalahan).
Di dalam Al-Quran juga dijumpai beberapa ayat yang
berhubungan dengan sifat-sifat pokok yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin,
diantaranya terdapat dalam surat As-Sajdah (32): 24 dan Al-Anbiyaâ (21): 73.
Sifat-sifat dimaksud adalah: (1). Kesabaran dan ketabahan. "Kami jadikan
mereka pemimpin ketika mereka sabar/tabah". Lihat Q. S. As-Sajdah (32):
24. Kesabaran dan ketabahan dijadikan pertimbangan dalam mengangkat seorang
pemimpin. Sifat ini merupakan syarat pokok yang harus ada dalam diri seorang
pemimpin. Sedangkan yang lain adalah sifat-sifat yang lahir kemudian akibat
adanya sifat (kesabaran) tersebut. (2). Mampu menunjukkan jalan kebahagiaan
kepada umatnya sesuai dengan petunjuk Allah swt. Lihat Q. S. Al-Anbiyaâ (21):
73, "Mereka memberi petunjuk dengan perintah Kami". Pemimpin dituntut
tidak hanya menunjukkan tetapi mengantar rakyat ke pintu gerbang kebahagiaan.
Atau dengan kata lain tidak sekedar mengucapkan dan menganjurkan, tetapi
hendaknya mampu mempraktekkan pada diri pribadi kemudian mensosialisasikannya
di tengah masyarakat. Pemimpin sejati harus mempunyai kepekaan yang tinggi
(sense of crisis), yaitu apabila rakyat menderita dia yang pertama sekali
merasakan pedihnya dan apabila rakyat sejahtera cukup dia yang terakhir sekali
menikmatinya. (3). Telah membudaya pada diri mereka kebajikan. Lihat Q. S.
Al-Anbiyaâ (21): 73, "Dan Kami wahyukan kepada mereka (pemimpin) untuk
mengerjakan perbuatan-perbuatan baik dan menegakkan sholat serta menunaikan
zakat". Hal ini dapat tercapai (mengantarkan umat kepada kebahagiaan)
apabila kebajikan telah mendarah daging dalam diri para pemimpin yang timbul
dari keyakinan ilahiyah dan akidah yang mantap tertanam di dalam dada mereka.
Sifat-sifat pokok seorang pemimpin tersebut sejalan
dengan pendapat yang dikemukakan oleh Al-Mubarak seperti dikutip Hafidhuddin
(2002), yakni ada empat syarat untuk menjadi pemimpin: Pertama, memiliki aqidah
yang benar (aqidah salimah). Kedua, memiliki ilmu pengetahuan dan wawasan yang
luas (`ilmun wasi`un). Ketiga, memiliki akhlak yang mulia (akhlaqulkarimah).
Keempat, memiliki kecakapan manajerial dan administratif dalam mengatur
urusan-urusan duniawi.
Memilih pemimpin
Dengan mengetahui hakikat kepemimpinan di dalam Islam
serta kriteria dan sifat-sifat apa saja yang harus dimiliki oleh seorang
pemimpin, maka kita wajib untuk memilih pemimpin sesuai dengan petunjuk
Al-Quran dan Hadits.
Kaum muslimin yang benar-benar beriman kepada Allah dan
beriman kepada Rasulullah saw dilarang keras untuk memilih pemimpin yang tidak
memiliki kepedulian dengan urusan-urusan agama (akidahnya lemah) atau seseorang
yang menjadikan agama sebagai bahan permainan/kepentingan tertentu. Sebab
pertanggungjawaban atas pengangkatan seseorang pemimpin akan dikembalikan
kepada siapa yang mengangkatnya (masyarakat tersebut). Dengan kata lain
masyarakat harus selektif dalam memilih pemimpin dan hasil pilihan mereka
adalah "cerminâ" siapa mereka. Hal ini sesuai dengan hadits Nabi saw
yang berbunyi: "Sebagaimana keadaan kalian, demikian terangkat pemimpin
kalian".
Sikap rakyat terhadap pemimpin
Dalam proses pengangkatan seseorang sebagai pemimpin
terdapat keterlibatan pihak lain selain Allah, yaitu masyarakat. Karena yang
memilih pemimpin adalah masyarakat. Konsekwensinya masyarakat harus mentaati
pemimpin mereka, mencintai, menyenangi, atau sekurangnya tidak membenci. Sabda
Rasulullah saw: "Barang siapa yang mengimami (memimpin) sekelompok manusia
(walau) dalam sholat, sedangkan mereka tidak menyenanginya, maka sholatnya
tidak melampaui kedua telinganya (tidak diterima Allah)".
Di lain pihak pemimpin dituntut untuk memahami kehendak
dan memperhatikan penderitaan rakyat. Sebab dalam sejarahnya para rasul tidak
diutus kecuali yang mampu memahami bahasa (kehendak) kaumnya serta mengerti
(kesusahan) mereka. Lihat Q. S. Ibrahim (14): 4, "Kami tidak pernah
mengutus seorang Rasul kecuali dengan bahasa kaumnya". dan Q. S. At-Taubah
(9): 129, "Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu
sendiri, terasa berat baginya penderitaanmu lagi sangat mengharapkan kebaikan
bagi kamu, sangat penyantun dan penyayang kepada kaum mukmin.
Demikianlah Al-Quran dan Hadits menekankan bagaimana
seharusnya kita memilih dan menjadi pemimpin. Sebab memilih pemimpin dengan
baik dan benar adalah sama pentingnya dengan menjadi pemimpin yang baik dan
benar.(*)
Oleh Agus Saputera, Staf Hukmas dan KUB Kanwil
Kementerian Agama (Kemenag) Prov. Riau dalam riau1.kemenag.go.id