Saat Imam Abu Hanifah Belajar dari Tukang Cukur
12/22/2015
Imam Abu Hanifah rahimahullah mengisahkan “Aku
melakukan kesalahan dalam lima hal tentang manasik haji, lalu aku diajarkan
oleh seorang tukang cukur, yaitu ketika aku ingin selesai dari ihram. Aku
mendatangi salah seorang tukang cukur, lalu aku berkata kepadanya, "berapa
harganya? "
“Semoga Allah menunjukimu. Ibadah tidak mensyaratkan
soal harga. Duduk sajalah dulu. Soal harga gampang,” jawab tukang cukur.
Waktu itu aku duduk tidak menghadap kiblat, lantas ia
mengarahkan dudukku hingga menghadap kiblat.
Aku menunjukkan bagian kiri kepalaku, lalu ia
memutarnya sehingga mulai mencukur kepalaku dari sebelah kanan.
Ketika aku dicukur, ia melihatku diam saja. Lalu ia
menegurku, “Kenapa diam saja? Ayo perbanyaklah takbir.” Maka aku pun bertakbir.
Setelah selesai, aku hendak langsung pergi. Lalu ia
berkata, “Mau kemana kamu?”
“Aku mau ke kendaraanku,” jawabku.
Tukang cukur itu mencegahku seraya berkata, “Shalat
dulu dua rakaat, baru kau boleh pergi kemana kau suka.”
Aku berkata dalam hati, tidak mungkin tukang cukur bisa
seperti ini kalau bukan dia orang alim. Lalu aku berkata kepadanya, “Dari mana
engkau dapati mengenai beberapa manasik yang kau perintahkan kepadaku?”
“Demi Allah, aku melihat Atho bin Abi Rabaah
mempratekkan hal itu, lalu aku mengikutinya, dan aku arahkan orang banyak untuk
belajar kepadanya,” jawab tukang cukur alim tersebut.
Kita lihat bagaimana Tabi'in Atho' bin Abi Rabah
mentarbiyah tukang cukur tersebut dengan keteladanan dan bagaimana semangatnya
tukang cukur tersebut mendakwahkan pelajaran yang ia dapat dari seorang ahlul
ilmi. Dak tak kalah hebatnya ialah bagaimana kelapangan hati seorang Imam
besar, Abu Hanifah untuk belajar dari seorang tukang cukur. Sungguh ini adalah
potret orang-orang alim di zaman generasi terbaik Islam. (albalaghmedia.com,
26/2/15)
