Membangun Poros Mekah - Al-Azhar - Istambul
12/22/2015
Di rubrik ini, pada pertengahan September 2014, saya
pernah menulis ‘Laikkah ISIS Dikeroyok 40 Negara?’ Pada waktu itu kelompok
teroris yang menamakan diri sebagai Islamic State of Iraq and Syria alias ISIS
baru saja menguasai Mosul, kota terbesar kedua di Irak setelah Baghdad.
Dengan mengambil alih Kota Mosul, masyarakat dunia baru
ngeh tentang kekuatan dan sekaligus bahayanya ISIS yang beberapa hari
sebelumnya telah mendeklarasikan diri sebagai sebuah negara dengan pemimpinnya
Abu Bakar al Baghdadi. Apalagi, dalam proses untuk menguasai wilayah di Irak
dan Suriah, ISIS telah menghalalkan segala cara. Dari menculik, membunuh,
membakar hidup-hidup, memperkosa, hingga melakukan bom bunuh diri di mana-mana.
Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama pun menyatakan
akan memimpin sebuah koalisi besar untuk menghancurkan ISIS. Koalisi ini
melibatkan lebih dari 40 negara, baik langsung maupun dalam bentuk lain.
Sejumlah negara yang tergabung dalam Liga Arab dan NATO (Pakta Pertahanan
Atlantik Utara) menyatakan ikut dalam koalisi ini.
Kekuatan militer dari koalisi besar itu tentu sangat
dahsyat yang tidak sebanding dengan kekuatan militer ISIS yang hanya
beranggotakan sekitar 20 sampai 31 ribu personel. Itulah sebabnya, saya membuat
tulisan dengan judul tersebut.
Apalagi, belum ada ceritanya ada negara yang diinvasi
oleh koalisi pimpinan AS yang bisa bertahan. Kalau ada perlawanan, itu hanya
menunggu waktu untuk kemudian akan KO (knock out) alias fight ending atau
menyerah kalah. Lihatlah apa yang terjadi pada Afghanistan Taliban, Irak Saddam
Husein, dan Libia Muammar Qadafi.
Namun, faktanya hampir setahun terbentuknya koalisi
internasional itu ISIS bukannya habis atau melemah. Sebaliknya, ISIS justru
berhasil memperluas wilayah di tengah gempuran pesawat-pesawat tempur koalisi.
Karena itu, pada Juni 2015 saya pun mempertanyakan di kolom ini ‘Mengapa
Koalisi Internasional Gagal Hancurkan ISIS?’
Bukan hanya gagal dihancurkan, bahkan ISIS kini pun
semakin berani beroperasi di luar Irak dan Suriah. Sejumlah bom bunuh diri
mereka lakukan di Arab Saudi, Yaman, Kuwait, Tunisia, dan negara lain. Mereka
juga melancarkan sejumlah serangan di Paris. Sepasang suami istri yang mengaku
sebagai pengikut ISIS menembak mati 14 orang di San Bernardino, California, AS.
Mereka pun mengancam akan semakin banyak melakukan serangan terhadap
negara-negara Barat lainnya.
Perang melawan terorisme pun kini semakin melibatkan
banyak negara. Negara-negara yang tergabung dalam koalisi besar pimpinan AS
yang tadinya hanya pasif menjadi penonton, sekarang aktif untuk ikut berperang
melawan para teroris.
Jerman, misalnya, yang sejak Perang Dunia II sengaja
tidak melibatkan diri ikut berperang di luar wilayah mereka, kini telah
memutuskan untuk mengirimkan pasukannya ke Suriah. Sebelumnya, Rusia juga telah
lebih dulu membangun basis-basis militer di Suriah dan memaksakan peta politik
versinya sendiri.
Pertanyaannya, bagaimanakah peta politik dan keamanan
di kawasan Timur Tengah pada masa yang akan datang? Apakah negara-negara yang
berpenduduk mayoritas Muslim ini hanya berdiam diri menjadi objek dari peta
dunia yang dibuat negara-negara Barat? Apakah mereka hanya akan berpangku
tangan melihat wilayah Timur Tengah dan Islam menjadi perebutan pengaruh oleh
kekuatan-kekuatan dunia?
Di sinilah barangkali urgensi dari Koalisi
Negara-negara Islam yang dibentuk dan dikomandani oleh Arab Saudi. Koalisi
militer yang diumumkan oleh Wakil Putra Mahkota yang juga Menteri Pertahanan
Kerajaan Arab Saudi, Pangeran Muhammad bin Salman bin Abdul Aziz, pada Selasa
lalu akan beranggotakan 34 dari 52 negara Islam (baca: negara berpenduduk
mayoritas Muslim).
Menurut Muhammad bin Salman, koalisi ini merupakan
aliansi baru yang akan mengoordinasikan upaya-upaya melawan terorisme. Bukan
hanya ISIS, namun juga kelompok-kelompok ekstremis lain di Irak, Suriah, Libia,
Mesir, Afghanistan, dan seterusnya. ‘‘Pembentukan koalisi ini merupakan bentuk
dari kewaspadaan dunia Islam dalam memerangi penyakit ekstremisme Islam yang
telah merusak dunia Islam,’’ ujar sang pangeran.
Meminjam istilah kolomnis Arab Saudi, Abdul Rahman al
Rasyid, Koalisi Negara-negara Islam ini penting untuk menjadi pemegang kendali
dan penentu dalam perang melawan kelompok-kelompok teroris yang mengklaim
sebagai pejuang Islam. Koalisi ini juga sebagai bentuk dari tanggung-jawab umat
Islam untuk tidak menyerahkan persolan kepada pihak lain. Sungguh menyedihkan,
katanya, apabila persoalan umat Islam --
dari pemikiran, ideologi, hingga peta politik dan keamanan -- diserahkan kepada
pihak lain.
Ia mencontohkan tentang definisi teroris versi Rusia
yang berbeda dengan pandangan mayoritas negara-negara Arab. Selama ini Rusia
menganggap siapa pun yang melawan rezim penguasa, meskipun penguasa itu zalim
sekalipun, adalah teroris yang harus diperangi. Itulah sebabnya Rusia juga
menggempur basis-basis kekuatan kelompok-kelompok oposisi di Suriah. Belakangan
Negara Beruang Merah itu baru menyerang ISIS setelah kelompok teroris ini
memasang bom di pesawat sipilnya yang kemudian meledak di atas wilayah Sinai,
Mesir. Sementara itu, AS juga mempunyai pandangannya sendiri mengenai
kelompok-kelompok teroris ini yang cenderung rasial.
Menurut al Rasyid, seyogiannya umat Islam tidak boleh
berdiam diri melihat definisi terhadap
terorisme yang berbeda-beda itu yang tidak sesuai dengan ajaran Islam.
Pembentukan koalisi negara-negara Islam, lanjutnya, adalah sebagai bentuk
tanggung-jawab dari perang melawan terorisme di kalangan umat Islam itu.
Persoalannya, bagaimana bentuk dari koalisi militer
yang digagas oleh Arab Saudi itu? Bagaimana peran dari masing-masing anggota
koalisi?
Persoalan ini
perlu dikemukakan lantaran kemampuan militer dan ekonomi masing-masing negara
Islam berbeda-beda. Ada yang sangat kuat
dan ada yang lemah. Ini belum lagi ada bebera negara Islam yang keberatan untuk
bergabung dengan koalisi militer itu. Misalnya, Indonesia yang mendasarkan
politik luar negerinya sebagai ‘bebas aktif’ menolak untuk ikut bergabung.
Hingga kini, pihak Saudi belum memberikan rincian
tentang bentuk koalisi ini. Namun, beberapa pihak menyebut koalisi itu akan
seperti koalisi negara-negara Arab yang dipimpin Arab Saudi ketika menyerang kelompok
al Hauthi di Yaman. Dalam koalisi ini hanya beberapa negara yang aktif ikut
menyerang al Hauthi, seperti Saudi sendiri dan beberapa negara Teluk kaya.
Sementara itu, yang lainnya hanya mendukung secara politik dan moral.
Karena itu koalisi negara-negara Islam ini bila tidak
mau gagal – seperti koalisi internasional pimpinan AS -- seharusnya tidak hanya
militer, namun juga koalisi pemikiran dan ideologi. Katakanlah koalisi poros
Arab Saudi-Mesir-Turki. Ketiga negara ini selain kuat di bidang militer, namun
juga menjadi simbol pusat pemikiran Islam moderat yang diwakili oleh Mekah (dan
Madinah), Al Azhar, dan Istambul. Mekah-Al Azhar-Istanbul bisa dikatakan
merupakan kiblat dan pusat peradaban besar Islam Sunni.
Saya yakin bila poros Mekah-Al Azhar-Istanbul ini
terbentuk, negara-negara Islam akan tergabung. Perang melawan terorisme bukan
hanya militer, namun yang juga tidak kalah pentingnya adalah perang melawan
ideologi radikal yang mengatasnamakan Islam. Terorisme adalah ideologi.
Dikutip dari tulisan Ikhwanul Kiram Mashuri dalam
republika.co.id, edisi 21/12/15
