Kisah Pohon Natal di Depok
12/19/2015
Pada hari Jum’at, (18/12) terjadi ketegangan antara
aktivis Islam dan aktivis Kristen di Polsek Depok. Mengutip laman sharia.co.id
(19/12), kedua kelompok itu pun akhirnya dikumpulkan dalam rapat yang dipimpin
Kapolres Depok Kombes Pol Dwiyono itu, dihadiri puluhan aktivis Kristen dan
aktivis Islam Depok. Aktivis-aktivis Islam diwakili oleh Front Pembela Islam
(FPI) Depok.
Kenapa
Kapolres harus mengundang para aktivis agama-agama itu di kantornya? Ternyata
kejadiannya bermula sekitar seminggu lalu.
Kronologi Peristiwa
Saat itu para aktivis Kristen Depok, karena ingin
meramaikan Natal mereka meletakkan Pohon Natal yang besar di tempat keramaian.
Di tugu persimpangan jalan Depok I dan Depok II.
Selang
beberapa hari, aktifis Islam yang dimotori FPI Depok protes ke Polres Depok
karena melihat Pohon Natal diletakkan di jalan yang ramai. Hal ini karena Pohon
Natal itu diletakkan di tempat yang strategis di daerah yang 90% penduduknya
umat Islam. FPI tidak keberatan adanya Pohon Natal itu, tapi mesti diletakkan
di lingkungan gereja, bukan di tempat strategis dimana umat Islam banyak lalu
lalang di sana.
Melihat
banyaknya kalangan Islam yang protes, akhirnya anggota Polres Depok
beramai-ramai memindahkan Pohon Natal itu ke lingkungan gereja yang terdekat.
Keesokan harinya, aktivis Kristen tidak terima. Mereka
protes ke Polres Depok mengapa Pohon Natal itu dipindahkan.
Melihat
ketegangan antar umat beragama tentang Pohon Natal, akhirnya Kapolres Depok
kemarin siang berinisiatif mengundang para aktivis gereja dan aktivis Islam
(FPI) beserta tokoh-tokoh Depok untuk membicarakan kasus ini. Setelah terjadi
diskusi yang alot di kantor Polres, akhirnya pihak gereja menyadari
kesalahannya. Dan mereka menerima Pohon Natal itu diletakkan di depan Gereja.
“Disepakati tadi malam para tokoh agama menjaga kerukunan dan toleransi di
Depok,” terang Haji Lupianto.
Sumber gambar: sharia.co.id dan tempo.co

